Emily, I Love You

assets.merriam-webster.com

Ku elus rambut panjang berwarna cokelat tua Emily, wanita yang telah lama hadir dalam hidupku. Menemani setiap langkahku, menemaniku memulai kehidupanku dari nol hingga dalam keadaan yang lebih dari cukup. Mata hijau zamrudnya menatap mataku saat ia menolehkan pandangannya padaku. Bibir mungilnya yang merah muda tersenyum, dan kacamatanya memantulkan sinar mentari pagi yang baru saja terbit dari ufuk timur, menyembul dari kaca jendela yang terbuka.

Kebahagiaan apa lagi yang akan dicari seseorang, jika telah memiliki segalanya. Aku memang bukanlah Tuhan –yang memiliki segalanya—tapi bagiku, kebahagiaan hidupku hanyalah Emily. Mungkin bagi pria lain, mereka akan berbahagia jika memiliki tiga hal, yakni; harta, tahta, dan wanita. Tapi untukku, harta dan tahta dapat dikesampingkan apabila kau memiliki wanita yang setia menemanimu dalam suka dan duka.

Bagiku, hanya Emily. Dan di mataku hanya ada Emily seorang. Emily memang bukanlah seorang yang sangat sempurna. Emily adalah wanita sederhana, dia adalah wanita humoris, pandai, dan tentunya bagiku sangat cantik. Terutama, senyumannya itu bisa membuatku jatuh cinta berkali-kali lipat kepadanya. Apa hanya itu yang kucintai darinya? Tentu saja tidak. Hanya orang bodoh yang tertarik kepada penampilan. Seperti pepatah, “don’t judge the book, by it’s cover” .

Yang kucintai dari Emily adalah, kepribadiannya. Pribadi Emily yang begitu cantik seperti wajahnya, hatinya sangat baik bak seorang malaikat. Tutur katanya yang halus dan lembut. Perilakunya dan setiap langkahnya yang anggun dan gemulai. Kecerdasaannya pun tak lagi perlu diragukan lagi. Memang, Emily bukan wanita seperti gadis-gadis populer di dalam film-film, yang selalu menjadi pusat perhatian karena kecantikannya.

Emily adalah seorang kutu buku, yang populer karena kepandaiannya. Banyak yang mengatakan, gadis cantik hanya pintar bersolek namun bodoh dalam pelajaran. Tapi Emily, mematahkan perkataan tersebut dengan membuktikan, dia bisa dihargai dan dihormati karena kepandaiannya. Bukan kecantikannya.

Bagaimana bisa, aku tak jatuh cinta padanya? Memang, penuh perjuangan untuk mendapatkannya, namun sekarang, setiap melihat cincin perak yang melingkar di jari manisnya, membuatku tenang, karena ia telah menjadi milikku seutuhnya. Tak perlu lagi kukhawatirkan dirinya akan berpindah ke lain hati, saat kuucapkan janji suci di hadapan Tuhan bersamanya. Aku bisa meyakinkan dirinya, aku dapat membahagiakannya.

Aku mencintainya, dan aku tahu dia juga mencintaiku.

Namun sayangnya, kukira itu semua akan berlangsung selamanya. Tapi ternyata roda kehidupan berputar, dan tentunya tak selalu di atas. Aku menemukan dirinya –Emilyku— tak lagi menatapku dengan berseri-seri, memelukku dengan tulus, mencintaiku sepenuh hatinya seperti dulu lagi. Memang, dia adalah wanita baik, dan ia selalu mengerjakan seluruh tugasnya sebagai seorang wanita karir sekaligus istri yang baik.

Ia mengerjakan pekerjaan rumah, memasak, mencuci seluruh pakaian, membereskan seluruh rumah, dan selalu membuat rumah dalam keadaan rapi setiap saat. Namun, ia tetap bisa mengerjakan pekerjaannya sebagai seorang penulis novel ternama. Ia juga tetap melayaniku sebagai suaminya. Tapi, aku tahu tidak mungkin ia bisa melakukan semuanya dengan sempurna.

Bagaimanapun juga Emily hanyalah seorang wanita, dia seorang manusia juga. Yang tentunya tidak sempurna, dan memiliki cela. Aku yakin, Emily memiliki kekurangan, yang mungkin tak diketahui oleh siapapun. Dan mungkin hanya aku yang merasakan dan mengetahui hal tersebut. Mungkin Emily tidak pernah benar-benar mencintaiku.

Untuk apa, wanita sepertinya yang begitu sempurna harus mencintai lelaki sepertiku? Kalaupun iya, kurasa saat itu Emily hanya melakukan kesalahan. Mungkin ia menyesal sudah menyukaiku? Menyesal telah mencintaiku? Atau mungkinkah, Emily menyesal telah menikah denganku?

Aku rasa, dugaanku benar mengenai Emily. Cepat atau lambat… ia akan meninggalkanku. Entah mencari pria lain, atau hidup bebas sendirian. Cepat atau lambat… ia akan menjauh dariku, memperlakukanku berbeda dan kemudian semua kebahagiaan kami yang dulu seperti sebuah pelangi yang menerangi langit, akan berubah seperti abu dalam perapian. Tapi, kalau memang itu yang ia inginkan… maafkan aku Emily, mungkin hanya ini yang bisa kulakukan untukmu…

Jika aku tidak bisa memiliki dirimu, maka orang lain pun tidak boleh…

“ Bryan.. apa yang kau lakukan?! Kumohon… tenangkan dirimu ya, kita sebaiknya bicara perlahan, dan—“

“TUTUP MULUTMU !!!”

“ Bryan, kumohon letakkan pisau itu dan kita bica—ra”

Dengan gelap mata, kutusuk dadanya, tepat dijantungnya. Ia terjatuh menelungkup di lantai, dan kuyakin ia sudah mati. Tapi, anehnya Emily masih sanggup berdiri. Ia berdiri, menjauh dari tubuhku. Wajahnya yang menunduk, kemudian menatapku. Rambutnya yang berantakan menutup sebagian wajahnya, dan kemudian kulihat di balik kacamatanya, kedua bola matanya menghitam mengerikan.

Bibir tipisnya yang memucat berbicara perlahan, membuat suasana sekitar menjadi terasa lebih dingin dari sebelumnya.

“Apa satu kali membunuhku belum cukup…sayang?”

***

“ Jadi, dokter… bagaimana menurut anda.. mengenai cerita yang anda dengar dari pasien anda?”

“ Menurut analisis, Skizophrenia yang dialaminya telah muncul sebelum ia membunuh Emily, tapi setelah ia menyimpan mayat istrinya di rumah, Delusinya semakin parah dan entah ini adalah sebuah keuntungan atau sebuah kesialan bagi Emily… jasadnya yang dibiarkan begitu saja, mengeluarkan aroma tidak sedap dan mengundang para tetangga untuk mencari tahu dari mana asal bau tersebut. Hingga akhirnya Bryan ditahan dan dibawa kesini untuk melakukan analisis psikologi.”

“ Tapi dokter, apa anda tahu… kenapa Tuan Bryan membunuh Nyonya Emily, padahal dia mencintainya?”

“ Kau pasti akan terkejut, karena skizophrenia yang dialami oleh Bryan terjadi atas besarnya cinta Bryan pada Emily.”

“ Apa hal tersebut mungkin terjadi, dokter?”

“ Tentu, Cinta membutakan segalanya. Lagipula… hal yang paling tidak masuk akal di dunia ini… adalah cinta, bukan?”

 

Emily, I Love u – The End

Penulis: Rosyiqa Cowara Dewi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *