Do you believe in ghosts?

weknownyourdreamz.com

Seorang gadis berambut hitam legam panjang itu, dengan lihai memainkan piano, music mengalun di dalam hall sekolah kesenian music paling terkenal di seluruh negeri. Jarinya menari-nari di atas tiap tuts piano. Padahal saat itu, ia hanya sedang berlatih untuk sebuah resital yang diadakan pada minggu berikutnya. Moonlight Sonata 3rd, mengalun merdu menyejukkan hati.

Lantunan tiap nada yang terdengar begitu tulus membuat tiap orang yang mendengarnya merinding—saking kerennya gadis itu memainkannya—Dan, saat permainannya selesai, tanpa ia sadari, dirinya pun begitu menikmati permainannya, hingga tak sadar telah sangat banyak mata menatapnya sambil bertepuk tangan.

Ia tersipu malu, membungkukkan badannya—memberi hormat—kepada seluruh penonton yang tak terduga. Tanpa ia sadari dari seluruh penonton yang bertepuk tangan hanya ada satu yang menatapnya dengan penuh amarah. Penuh kebencian. Penuh dendam dalam matanya.

Saat semua penonton telah pergi, gadis itu mengelus piano tersebut dengan lembut, menepuknya perlahan seolah-olah piano tersebut adalah sahabat karibnya sendiri sambil bergumam ‘ minggu depan adalah perjuangan jadi, semangat!’, menyemangati dirinya sendiri.

“Sudah gila ya? Bicara dengan piano?” Gadis sebayanya, berambut pendek sebahu tersenyum menyapanya.

“ Ah, Chloe… Rupanya kau… Ya begitulah, bagiku piano adalah teman yang cukup berharga untukku. Bukankah begitu juga bagimu?”

Chloe berjalan mendekatinya, mengelus lembut piano tersebut sambil menelusurinya “ Ya begitulah, tapi tidakkah kau pikir, kau terlalu berlebihan dalam menyikapi dunia music ini, Jane?” Chloe meliriknya, “ Jangan sampai orang lain mengira pianis nomor 1 di Universitas ini gila, sampai bicara dengan piano.”

Jane tertawa pelan, menatap Chloe langsung di matanya. “ Bukan gila, bagiku alunan music yang dimainkan dengan tulus… menggunakan piano, memberi arti yang cukup mendalam bagi orang lain…”

“ Tuhkan…Kau sudah gila?” Cerca Chloe, “ Sudahlah, pastikan resital nanti kau baik-baik saja, dan tidak terjadi apapun pada tanganmu, atau kau tau kan aku akan menggantikanmu dan kau tau aku malas melakukannya”

Jane tersenyum dan mengangguk.

Setelah beberapa hari ia melatih terus permainannya, ia merasa sudah cukup baik dalam permainan pianonya. Tepat satu hari sebelum dimulainya resital itu, Jane berlatih hingga cukup malam. Ia berjalan pulang ke rumah, seperti biasa. Tapi ia merasa ada sesuatu yang cukup janggal. Ia merasa… diikuti.

Beberapa kali ia menoleh ke belakang, seseorang berjalan dibelakangnya menggunakan hoodie biru tua yang menutupi kepala dan sebagian wajahnya, terlihat mengikutinya kemanapun ia berbelok. Takut, ia mulai berlari. Tapi ternyata orang itu masih mengikutinya dan bahkan ikut berlari kemanapun ia pergi. Ia berlari tanpa melihat arah, melewati sebuah jalan yang sangat sepi tanpa ada seorang pun terlihat. Semakin panic, ia kemudian berlari semakin cepat.

Roknya yang tidak bisa dipakai untuk berlari terlilit dan membuatnya terjatuh. Ia jatuh tertelungkup, seluruh isi tasnya berhamburan dan lututnya terluka. Ketika ia berusaha untuk bangun, ia tidak bisa. Seseorang sedang menginjak punggungnya, ia hanya bisa menangis ketakutan sambil berdoa dalam hati semoga tak terjadi apapun pada dirinya.

Namun ternyata doanya tidak sedikitpun di kabulkan. Bahkan di dengarpun tidak.

Dan kemudian semuanya menjadi gelap.

Saat tersadar ia telah berada di dalam ruang resital yang gelap dan hanya lampu panggung yang menyala menyinari sebuah grand piano berwarna hitam mengilap yang seharusnya ia mainkan besok. Sosok berhoodie biru tua yang menyerangnya tadi terlihat duduk dihadapan grand piano tersebut. Perlahan terdengar alunan dentingan piano, ciri khas permainan yang sangat ia kenal.

“Harusnya aku…” Suara yang ia kenali terdengar bergetar, kemudian sosok itu berdiri dan matanya menatap Jane penuh amarah. “ Harusnya aku!”

Sosok itu menuruni panggung dengan terburu-buru dan menghampiri Jane. Jane hanya bisa diam tak berkutik, selain karena kedua tangan dan kedua kakinya diikat, ia tak menyangka sahabatnya sendiri telah menyerangnya. Chloe menarik paksa dan menyeret Jane keatas panggung, kemudian mendudukannya di hadapan grand piano.

“ Kau bilang… kalau piano adalah sahabatmu? Lalu…” Jane merasakan sesuatu yang dingin melingkari lehernya dari belakang. “ Bagaimana kalau bagian dari sahabatmu itu membunuhmu?”

Jane merasakan jeratan yang sangat kuat pada lehernya. Semakin dan semakin kuat, hingga ia merasa kehabisan udara. Hal yang terakhir ia dengar hanyalah tawa jahat Chloe yang sedang mencekiknya dengan kawat piano.

Esoknya, petugas resital menemukan Jane yang sudah tak bernyawa dengan kepala hampir putus di panggung. Terduduk dan bersandar pada grand piano yang tutsnya telah berubah warna menjadi merah darah.

Dan begitulah kisah Jane si pianis yang mati mengenaskan. Setelahnya, hantunya menggentayangi Chloe hingga dia gila dan mati bunuh diri. Tamat”

 

“ Hei! Apa-apaan sih ceritamu itu? Ceritamu itu kau buat-buat ya? Hantu itu ngga ada bodoh!” Ujar seorang gadis berambut panjang yang terduduk di lantai.

“ Kau ini nggak sadar atau apa? Lalu menurutmu, kalau cerita ini dibuat-buat… bagaimana bisa ada luka jahitan ini?” Tanya Jane sambil menunjuk bekas jahitan yang cukup tebal pada lehernya.

“ Oh iya, ini kisahmu ya? Jelek sekali ceritanya. Tidak ada seram-seramnya sama sekali.” Ejek seorang pria bermata tiga.

“ Hei Cyclops! Kau pikir kau itu keren dengan mata tiga begitu?! Mata tambahanmu hanya berguna untuk mencontek kan?!” Cerca seorang gadis berkulit putih pucat seperti albino.

“ Lagipula… kematian mengenaskan seperti kita… tidak akan pernah pergi kemana-mana, baik ke surga atau neraka… Ya kan…?” Tanya Jane pada seorang gadis berambut pendek sebahu disebelahnya yang tubuh dan pakaiannya basah dan meneteskan air tanpa henti.

“ Tentu. Aku cukup menyesal melakukan hal itu padamu Jane… Tapi ternyata, melompat kelaut dan tubuhku tak pernah ditemukan membuatku sial dan bertemu lagi denganmu disini.” Jawab Chloe.

“ Mungkinkah kita memang di takdirkan untuk bersahabat di dunia maupun pada kematian?” Tebak Jane.

“ Hahaha… mungkin.”

Do you believe in ghost? – The End

Penulis: Rosyiqa Cowara Dewi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *